Cara Audit Website Sendiri Gratis dalam 15 Menit (Panduan Teknis 2026)
Table of Contents
Subscribe
Get the latest insights delivered to your inbox.
Bayangkan Anda membeli mobil sport seharga miliaran rupiah. Eksteriornya mengkilap, catnya mulus, desain aerodinamis. Tapi saat kunci diputar, mesinnya batuk-batuk dan mobil tidak bisa berjalan lebih dari 20 km/jam.
Itulah analogi yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi banyak website bisnis di Indonesia saat ini. Secara visual (UI), website mereka terlihat memukau. Penuh animasi, gambar resolusi tinggi, dan warna-warni. Namun, di belakang layar, "mesin" teknisnya (Technical SEO) hancur lebur.
Akibatnya? Google menganggap website tersebut "rusak" dan enggan menampilkannya di halaman pertama. Calon pembeli yang datang pun langsung kabur karena loadingnya lambat. Investasi digital Anda menjadi sia-sia.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu langsung menyewa konsultan IT mahal hanya untuk mengetahui kesehatan dasar website Anda. Sama seperti Anda bisa mengecek oli dan tekanan ban mobil sendiri, Anda juga bisa melakukan Self-Audit Website.
Berikut adalah panduan lengkap 8 langkah audit website gratis yang bisa Anda lakukan sekarang juga. Jika Anda butuh bantuan profesional, tim Web Development kami siap membantu.
Apa itu Core Web Vitals?
Di era 2026, Google tidak lagi mentolerir website lambat. Kecepatan bukan lagi fitur tambahan, tapi syarat mutlak. Seperti dibahas dalam Analisis SEO Modern, kesehatan teknis adalah faktor ranking utama. Metrik yang digunakan Google disebut Core Web Vitals.
- LCP (Largest Contentful Paint): Seberapa cepat elemen terbesar (biasanya gambar utama) muncul. Target: < 2.5 detik.
- INP (Interaction to Next Paint): Seberapa cepat website bereaksi saat tombol diklik. Target: < 200 milidetik.
- CLS (Cumulative Layout Shift): Apakah layout website "berdansa" (bergeser) saat loading? Target: < 0.1.
Cara Cek Gratis:
- Buka Google PageSpeed Insights.
- Masukkan URL website Anda.
- Lihat tab Mobile (Abaikan Desktop dulu, karena Mobile lebih prioritas).
- Jika skor Anda merah (di bawah 50), Anda dalam zona bahaya. Pengunjung Anda kemungkinan besar memencet tombol "Back" sebelum website terbuka sepenuhnya.
Apakah Website Anda Mobile-Friendly?
Data global konsisten menunjukkan bahwa 65-75% traffic web datang dari perangkat seluler. Google menggunakan sistem Mobile-First Indexing. Artinya, robot Google akan merayapi dan menilai website Anda berdasarkan versi HP-nya, bukan versi laptop.
Lakukan tes manual sederhana ini:
- Buka website Anda di HP.
- Coba navigasi menggunakan satu tangan (jempol kanan).
- Fat Finger Check: Apakah tombol-tombol menu terlalu kecil atau terlalu rapat? Apakah jempol Anda sering salah pencet?
- Readability: Apakah Anda harus mencubit layar (zoom-in) untuk membaca teks? Google menyarankan ukuran font minimal 16px.
Jika user kesulitan menggunakan website Anda di HP, Google akan menurunkan ranking Anda demi menjaga kenyamanan penggunanya.
Apakah Ada Link Mati (Broken Links)?
Tidak ada yang lebih membunuh kepercayaan pelanggan (Trust) daripada meng-klik tombol "Lihat Produk" dan disambut halaman "404 Not Found". Bagi pengguna, ini tanda bisnis tidak profesional. Bagi Google, website yang dipenuhi link mati adalah tanda "Situs Terlantar" (Abandoned Site) yang tidak layak diusulkan ke pencari.
Cara Cek Gratis: Gunakan tools gratis seperti Broken Link Checker atau ekstensi Chrome "Check My Links".
- Scan website Anda.
- Jika ditemukan Error 404, segera perbaiki.
- Solusi: Hapus link tersebut, atau ganti dengan link baru yang aktif.
4. Keamanan Dasar (SSL & HTTPS)
Lihat di sebelah kiri alamat website Anda di browser. Apakah ada ikon Gembok đź”’? Jika yang muncul adalah tulisan "Not Secure" atau gembok merah dicoret, Anda punya masalah besar.
Sertifikat SSL (HTTPS) adalah standar keamanan wajib.
- Trust: 85% pengguna mengaku tidak akan memasukkan data pribadi (seperti form kontak) di website yang bertanda "Not Secure".
- SEO: Google secara resmi menjadikan HTTPS sebagai faktor ranking sejak tahun 2014.
Pastikan sertifikat SSL Anda aktif dan tidak kedaluwarsa. Kebanyakan hosting modern sudah memberikan ini secara gratis (Let's Encrypt).
5. Audit Identitas (Meta Tags & SERP Appearance)
Bagaimana wajah website Anda saat muncul di hasil pencarian Google?
Ketik ini di kolom search Google: site:namadomainanda.com
Google akan menampilkan daftar semua halaman website Anda yang sudah terindeks. Perhatikan:
- Title Tag: Apakah judulnya menarik? Hindari judul malas seperti "Home", "Untitled Page", atau "Index". Judul harus mengandung kata kunci bisnis, misal: "Jasa Catering Jakarta Selatan | Enak & Higienis".
- Meta Description: Apakah deskripsinya mengajak orang untuk klik? Jika kosong, Google akan mengambil potongan teks acak dari website yang seringkali tidak nyambung.
6. Struktur Heading (H1, H2, H3)
Google membaca artikel tidak seperti manusia. Mereka membaca struktur kode. Heading (Judul) membantu Google memahami mana topik utama dan mana sub-topik.
- H1: Hanya boleh ada SATU per halaman. Ini adalah Judul Utama.
- H2: Gunakan untuk sub-judul bab.
- H3: Gunakan untuk poin-poin detail di bawah H2.
Kesalahan umum: Menggunakan H2 hanya untuk menebalkan huruf (styling), bukan untuk struktur. Atau menggunakan banyak H1 di satu halaman. Struktur yang berantakan membuat Google bingung tentang topik website Anda.
7. Masalah Konten Duplikat (Cannibalization)
Apakah Anda memiliki 3 artikel berbeda yang membahas hal yang sama persis? Misalnya:
- Artikel A: "Cara Bikin Kopi Enak"
- Artikel B: "Tips Membuat Kopi Lezat"
- Artikel C: "Panduan Seduh Kopi Mantap"
Ini disebut Keyword Cannibalization. Halaman-halaman Anda akan "saling memakan" dan berebut ranking di Google. Hasilnya? Tidak ada satupun yang menang. Lebih baik gabungkan ketiga artikel tersebut menjadi satu PANDUAN LENGKAP yang mendalam (Power Page). Google lebih suka satu konten otoritatif ("Ultimate Guide") daripada sepuluh konten tipis yang diulang-ulang.
8. Tools Lanjutan: Google Search Console (GSC)
Jika Anda ingin audit yang lebih dalam dan valid langsung dari sumbernya, wajib hukumnya memasang Google Search Console. Ini adalah alat "Rontgen" resmi dari Google.
Di dalam GSC, Anda bisa melihat laporan "Page Indexing".
- Apakah ada halaman yang Crawled - currently not indexed? (Google sudah berkunjung tapi memutuskan konten Anda tidak layak tampil).
- Apakah ada masalah Mobile Usability?
GSC adalah satu-satunya alat yang memberi tahu Anda secara jujur apa pendapat Google tentang website Anda. Dan yang terbaik: Tools ini 100% gratis.
Jaga Kesehatan Aset Digital Anda
Audit website bukanlah pekerjaan satu kali. Ini adalah Maintenance Rutin. Website yang sehat secara teknis akan jauh lebih mudah ranking di halaman pertama Google, bahkan tanpa backlink mahal sekalipun.
Jika setelah melakukan audit ini Anda menemukan rapor merah di mana-mana, jangan panik. Setidaknya Anda sudah tahu penyakitnya. Langkah selanjutnya adalah pengobatan.
Butuh bantuan teknis mendalam? Kadang perbaikan teknis (seperti Core Web Vitals atau Schema Markup) membutuhkan sentuhan coding. Tim Web Development Minarflow siap membantu Anda melakukan "Turun Mesin" (Technical Overhaul) agar website Anda kembali prima, cepat, dan siap mendatangkan profit.
Mengapa Website Lebih Penting dari Instagram di 2026? (Jangan Sampai Boncos)
Next ArticleApa itu Domain Authority dan Kenapa Susah Naik? (Mitos vs Fakta SEO 2026)
Ready to transform your business?
Join thousands of companies using Minarflow to ensure compliance and security.
Get Verified Now
